Nasabah asuransi tidak menolak. Mereka cuma diam.
Prospek yang berhenti membalas setelah ilustrasi bukan menolak Anda. Dia menunda — dan penundaan yang dibiarkan akan mengeras jadi "tidak" dengan sendirinya.
Asuransi itu satu-satunya bisnis yang saya tahu di mana calon nasabah setuju dengan Anda sepenuhnya — lalu tetap tidak melakukan apa-apa.
Dia setuju bahwa keluarganya akan kesulitan kalau penghasilannya berhenti. Dia setuju biaya rumah sakit bisa menghabiskan tabungan. Dia setuju preminya masih masuk akal. Dia bilang, dengan tulus, minggu depan dia kabari.
Lalu senyap. Bukan penolakan. Cuma diam — yang justru lebih buruk, karena penolakan setidaknya adalah kejadian yang bisa Anda tanggapi.
Diam bukan keputusan. Diam adalah tidak adanya keputusan.
Ini yang paling sering salah dibaca agen, dan ini kesalahan paling mahal di industri ini.
Waktu prospek diam setelah ilustrasi dikirim, agen menyimpulkan bahwa keputusan sudah diambil — diam-diam, dan menolak dia. Jadi agennya berhenti. Follow up sekarang rasanya seperti mengemis, dan tidak ada yang mau jadi agen asuransi yang mengemis.
Padahal tidak ada keputusan apa pun yang diambil. Justru itu masalahnya. Prospeknya tidak menimbang penawaran Anda lalu menolaknya. Dia menaruhnya di tumpukan "nanti kalau sudah agak longgar" — dan hidup tidak pernah jadi longgar. Penawaran itu diam di situ, menua pelan-pelan, sampai terlalu basi untuk dibahas lagi tanpa canggung.
Asuransi sangat rentan pada hal ini karena menundanya tidak menimbulkan akibat apa pun. Telat bayar listrik, listriknya dicabut. Menunda beli proteksi, dan dalam waktu lama benar-benar tidak terjadi apa-apa — sampai satu hari ketika terjadi.
Artinya, tidak ada apa pun yang memaksa prospek Anda mengambil keputusan, kecuali Anda. Kalau Anda ikut diam, kalian berdua diam-diam sepakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Dan memang tidak terjadi apa-apa.
Arti sebenarnya dari diam
Tidak semua diam itu sama. Bedanya penting, karena tiap jenis butuh pesan yang berbeda.
| Kalimat terakhir dia | Biasanya artinya |
|---|---|
| "Saya diskusi dulu sama suami" | Diskusi di rumah tidak pernah terjadi. Keburu sibuk. |
| "Kirim ilustrasinya ya" | Dibuka, tidak sepenuhnya paham, dan sungkan bertanya. |
| "Mungkin habis Lebaran" | Dia serius. Tidak ada yang mencatat. |
| "Preminya agak berat" | Dia tidak menolak proteksinya. Dia menolak angka itu. |
Perhatikan yang terakhir baik-baik. "Preminya berat" adalah kalimat paling sering disalahartikan di asuransi. Agen mendengarnya sebagai penolakan. Prospeknya sebenarnya berkata: saya mau ini, tapi saya tidak lihat caranya membayar dengan skema yang Anda kasih. Itu bukan pintu tertutup. Itu permintaan pintu lain — uang pertanggungan lebih kecil, premi tahunan bukan bulanan, satu rider dilepas dulu.
Dan agen yang tidak pernah follow up tidak pernah sempat membuka pintu itu.
Follow up yang bukan mengemis
Agen menghindari pesan kedua dan ketiga karena yang terbayang di kepalanya cuma satu versi — versi memelas. "Permisi Pak, sudah ada keputusan?"
Pesan itu memang mengemis. Ia menyuruh prospeknya membela diri, dan tidak memberi apa pun sebagai gantinya. Wajar rasanya berat dikirim. Wajar juga kalau tidak dibalas.
Tiga pesan yang tidak mengemis:
Yang menyambung kalimat dia. Jangan "menanyakan kabar" — sambung persis dari titik dia berhenti. "Waktu itu Bapak mau bicara dulu sama Ibu soal rencana pendidikan anak. Sudah sempat ngobrol?" Anda bukan mengejar. Anda melanjutkan percakapan yang dia mulai.
Yang mengubah angkanya. Kalau dia mundur karena premi, kembalilah dengan struktur yang benar-benar berbeda, bukan struktur yang sama diulang dengan nada lebih manis. "Saya susun ulang — proteksi rumah sakitnya sama, preminya turun 40%, rider penyakit kritis kita lepas dulu dan tambahkan tahun depan." Itu informasi baru, dan informasi baru layak dibalas.
Yang memberi dia jalan keluar. "Kalau memang tahun ini belum waktunya, tidak apa-apa sama sekali — bilang saja, nanti saya berhenti menawarkan." Kedengarannya seperti menyerah. Praktiknya, pesan ini menghasilkan balasan lebih banyak daripada dua pesan lain digabung, karena ia mengembalikan kendali ke prospeknya sekaligus memberi tenggat yang tidak terasa seperti tekanan.
Kenapa ini tetap gagal di lapangan
Tidak ada yang sulit dari semua di atas. Setiap agen yang membaca ini bisa menulis tiga pesan itu sekarang juga.
Yang sulit adalah tahu siapa yang harus dikirimi. Kuartal ini Anda bicara dengan mungkin enam puluh orang. Ada yang diam di tahap ilustrasi, ada yang diam di harga, ada yang bilang "bulan depan" — dan "bulan depan" itu lima minggu lalu, yang mustahil Anda ketahui, karena percakapannya sekarang sudah tertimbun sembilan ratus pesan di WhatsApp Anda.
Di situlah kegagalan yang sebenarnya. Bukan di kata-katanya. Di ingatannya.
Dokwise membaca WhatsApp Anda dan menyerahkan daftarnya setiap pagi: siapa yang diam, sejak kapan, dan apa kalimat terakhir mereka sebelum menghilang. Pesannya tetap Anda yang tulis. Anda cuma berhenti kehilangan orang gara-gara ingatan sendiri.
Satu hal untuk dikerjakan hari ini
Scroll mundur sembilan puluh hari. Cari semua orang yang diam setelah Anda kirim ilustrasi — mereka yang cukup tertarik sampai minta angka.
Itu bukan lead dingin. Itu orang yang sudah bilang mereka mau, lalu keburu sibuk. Chat tiga di antaranya hari ini, sambung dari kalimat terakhir mereka.
Bukan "sudah ada keputusan?". Kalimat mereka.