Customer termurah adalah yang sudah pernah nanya ke Anda
Banyak bisnis sibuk cari leads baru sambil melupakan yang sudah pernah nanya. Pemasukan yang paling murah ditarik balik justru ada di WhatsApp Anda sendiri.
Bulan lalu seorang pemilik klinik bilang ke saya, dia butuh menaikkan budget iklan. Booking-nya mandek, dan dia yakin jalan keluarnya jangkauan yang lebih luas: Instagram lebih banyak, Google lebih banyak, uang lebih banyak di ujung atas funnel.
Saya minta dia buka WhatsApp dan scroll ke tiga bulan lalu. Kami hitung ada empat puluh satu orang yang pernah nanya soal perawatan, entah harganya, jadwalnya, atau "bisa dicicil?", lalu menghilang. Semuanya sudah dia balas satu per satu. Setelah itu chat-nya berhenti begitu saja.
Dia mau bayar untuk cari orang baru yang belum kenal dia. Padahal dia sudah punya empat puluh satu orang yang mengangkat tangan dan bilang, hitam di atas putih, bahwa mereka tertarik.
Kebiasaan paling mahal di bisnis yang jalan lewat WhatsApp
Hampir semua bisnis yang saya temui punya naluri yang sama: kalau mau tumbuh, cari leads baru. Jadi budget-nya lari ke ujung atas funnel, ke iklan, marketplace, boosting, sementara leads yang sudah ada di dalam HP, yang buat dihubungi lagi tidak keluar biaya sepeser pun, malah dibiarkan diam.
Ini terbalik, dan bedanya jauh.
Orang asing yang belum pernah dengar nama Anda harus ditemukan dulu, dibikin percaya Anda beneran ada dan bisa dipercaya, lalu didorong sampai mau bertanya, baru sesudah itu proses jualan yang sebenarnya mulai. Orang yang chat Anda bulan Maret sudah lewat semua tahap itu. Dia sudah menemukan Anda, cukup percaya untuk bertanya, dan sudah bilang persis apa yang dia mau. Satu-satunya yang meleset cuma satu: percakapannya berhenti.
Menarik balik orang itu jauh lebih murah daripada mencari yang baru, dan mereka bilang "ya" jauh lebih sering. Semua riset soal ini jatuh di kisaran yang sama: menghidupkan lagi lead yang sudah diam biayanya sekitar empat sampai sepuluh kali lebih murah dibanding cari yang baru, dan closing-nya dua sampai tiga kali lebih tinggi. Anda tidak perlu tahu angka pastinya. Cukup sadar bahwa selama ini uang habis di yang mahal, dan yang murah dianggurin.
Kenapa lead "mati" sebenarnya belum mati
Orang suka menyebutnya "lead mati", dan istilah itu sendiri yang bikin rugi. Mati artinya hilang, artinya tidak, artinya tidak usah diurus lagi. Padahal hampir tidak ada dari mereka yang benar-benar bilang tidak.
Coba baca lagi apa yang sebenarnya mereka tulis sebelum menghilang:
| Kalimat terakhir mereka | Sebenarnya itu bukan |
|---|---|
| "Nanti saya diskusi sama suami dulu" | Bukan menolak. Diskusinya yang tidak pernah kejadian di rumah. |
| "Kalau ambil dua berapa?" | Bukan menolak. Pertanyaan calon pembeli yang belum Anda jawab tuntas. |
| "Nanti aku kabari ya" | Bukan menolak. Janji yang tidak dicatat siapa-siapa, dari orang yang keburu sibuk. |
| "Lagi mikir-mikir dulu" | Bukan menolak. "Mungkin" tanpa tenggat. |
"Mungkin" tanpa tenggat itu kondisi paling wajar dari kebanyakan keputusan orang. Mereka bukan menolak Anda, mereka menunda Anda, dan penundaan itu pelan-pelan mengeras jadi tidak ada apa-apa gara-gara Anda berdua sama-sama berhenti. Lead-nya tidak mati. Dia ditinggalkan, oleh dua orang sekaligus, dan Anda salah satunya.
Jendelanya nyata, dan lebih pendek dari yang Anda kira
Ada satu catatan penting, dan inilah kenapa menarik balik pemasukan ini mendesak, bukan urusan "nanti-nanti saja".
Nilai sebuah lead yang diam itu terus menyusut. Orang yang nanya soal klinik Anda minggu lalu masih ingat obrolannya, masih punya masalah yang sama, masih hafal nama Anda. Orang yang nanya enam bulan lalu sudah setengah lupa, dan bisa jadi malah sudah beres di tempat lain. Tiap minggu Anda menunda, peluangnya ikut turun sedikit demi sedikit.
Patokan kasarnya sembilan puluh hari. Dalam tiga bulan, "nanti saya pikir-pikir" masih cukup hangat buat dilanjutkan tanpa terasa canggung. Lewat dari itu, rasanya lebih mirip kenalan dari nol. Jadi yang mesti Anda dahulukan bukan lead paling lama yang sudah berdebu, tapi yang dari beberapa minggu terakhir, yang baru mulai Anda lupakan.
Pesan yang membuka lagi percakapannya
Menghidupkan lagi sebuah lead itu bukan broadcast. Hal paling buruk yang bisa Anda lakukan adalah menyebar "Promo bulan ini!" ke enam puluh orang yang menyimpan nomor Anda. Itu cara paling cepat dilaporkan lalu diblokir, dan memang pantas.
Pesan yang berhasil cuma melakukan satu hal: melanjutkan persis kalimat terakhir yang mereka tinggalkan.
Bukan "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?", karena itu memaksa mereka susah payah mengingat siapa Anda dan kenapa dulu mereka chat. Tapi begini: "Bu Sari, bulan lalu Ibu sempat tanya paket perawatan yang bisa dicicil. Kebetulan sekarang ada opsinya, mau saya kirimkan?" Itu bukan promo. Itu bukti Anda menyimak, ditujukan ke satu orang, disambung tepat dari titik dia berhenti.
Kirim lima pesan seperti itu sehari, satu-satu, ke orang yang sudah kenal Anda, dan Anda tidak sedang nge-spam siapa-siapa. Anda sedang menuntaskan percakapan yang Anda mulai sendiri.
Bagian yang memang tidak bisa Anda kerjakan sendiri
Semua yang di atas, tiap pemilik usaha sebenarnya sudah tahu. Tidak ada yang perlu diyakinkan bahwa follow up itu berhasil.
Kenapa tetap tidak terjadi? Bukan soal niat. Masalahnya, membuka lagi percakapan yang pas berarti scroll ribuan pesan tiap pagi untuk menyusun ulang siapa yang menghilang, kapan, dan apa kalimat terakhirnya, melintasi puluhan chat sebanyak isi satu klinik, sambil tetap menjalankan kliniknya. Tidak ada orang yang sanggup menyimpan itu semua di kepala, dan tidak ada yang punya waktu sejam sehari buat merangkainya manual. Ujung-ujungnya leads-nya membusuk di depan mata, dan budget iklan malah dinaikkan.
Inilah satu bagian pekerjaan yang memang tidak bisa dikerjakan manusia dalam jumlah besar, dan justru itu alasan kami membangun Dokwise. Dia membaca percakapan WhatsApp yang sudah Anda punya, lalu tiap pagi menyodorkan daftar pendek: siapa yang menghilang, sudah berapa lama, dan apa hal terakhir yang mereka katakan. Pesannya tetap Anda yang tulis, karena Anda yang paham bisnisnya. Anda cuma berhenti kehilangan orang gara-gara lupa.
Lakukan ini sebelum menaikkan budget iklan
Buka WhatsApp. Scroll ke sembilan puluh hari lalu. Cari semua orang yang dulu bertanya sungguhan sebagai calon pembeli, soal harga, ketersediaan, "bisa dicicil", lalu menghilang setelah Anda balas.
Catat ada berapa orang. Kalikan dengan rata-rata nilai penjualan Anda. Angka itulah pemasukan yang haknya sebenarnya sudah jadi milik Anda, tersimpan di HP Anda sekarang.
Lalu chat tiga di antaranya hari ini. Bukan promo. Kalimat mereka, dilanjutkan.